Prabumulih, (Kemenag Sumsel) – Suasana di MAN 1 Kota Prabumulih pada Senin pagi (20/4) terasa berbeda. Bukan keriuhan kantin atau canda tawa biasa yang terdengar, melainkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang syahdu mengalun dari setiap sudut ruangan. Hari ini, Rumah Tahfidz Al-Quran Asshodiqin sedang melahirkan sejarah baru bagi para penjaga kalam ilahi melalui agenda Munaqosah Tahfidz.
Bagi 54 siswa yang hadir, hari ini bukan sekadar ujian di atas kertas. Ini adalah pembuktian atas ribuan jam yang mereka habiskan di sela-sela penatnya pelajaran madrasah untuk mendekap erat hafalan mereka. Munaqosah ini merupakan gerbang terakhir sebelum mereka melangkah ke panggung Wisuda Tahfidz yang dinanti-nantikan.
Kepala MAN 1 Kota Prabumulih, Nely Septiana, yang memantau jalannya ujian, tampak terharu. Baginya, kegiatan ini adalah pesan kuat bagi masyarakat bahwa di tengah gempuran dunia digital, anak muda Prabumulih masih memiliki tempat spesial untuk Al-Quran.
“Kami tidak hanya ingin mencetak siswa yang pintar secara intelektual, tapi juga memiliki ketenangan batin. Anak-anak ini adalah aset masa depan Prabumulih. Ketika mereka menjaga Al-Quran, maka Insya Allah, karakter dan akhlak mereka juga akan terjaga,” tutur Nely dengan penuh keyakinan.
Di ruang ujian, konsentrasi tingkat tinggi terlihat jelas. Empat sosok penguji, yakni Jimiadi Saputra, Sahlan Rusidi, Lusi Agustina, dan Deti Aflianti, menyimak dengan saksama setiap hukum tajwid dan kelancaran ayat yang dibawakan peserta.
Ada momen menyentuh ketika salah satu peserta sempat terbata karena gugup, namun tim penguji dengan sabar membimbing dan memberikan penguatan.
Munawaroh, selaku Ketua Panitia, menyebutkan bahwa pendekatan “manusiawi” menjadi kunci agar potensi terbaik siswa keluar.
“Munaqosah ini adalah ruang belajar, bukan ruang penghakiman. Kami ingin mereka bangga dengan setiap juz yang mereka hafal, baik itu 1 juz maupun 30 juz,” ujar Munawaroh.
Dampak bagi Masyarakat
Kegiatan ini mengirimkan getaran positif bagi warga madrasah dan orang tua. Munaqosah ini membuktikan bahwa pendidikan agama dan akademik bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Diharapkan, lulusan Rumah Tahfidz Asshodiqin kelak tidak hanya menjadi penghafal di dalam masjid, tetapi menjadi “Al-Quran berjalan” yang membawa kedamaian dan integritas di tengah masyarakat Prabumulih.
Perjuangan hari ini adalah langkah awal. Saat mahkota kemuliaan itu disematkan pada hari wisuda nanti, tangis haru orang tua dan doa tulus masyarakat akan menjadi saksi bahwa generasi Qurani dari MAN 1 Prabumulih siap menyongsong dunia.