Prabumulih (Kemenag Sumsel) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Prabumulih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Penyusunan Modul Ajar Deep Learning yang berlangsung selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 September 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta serta menyusun modul ajar deep learning demi menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan inovatif.

Workshop prestisius ini menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka di bidang pendidikan, antara lain Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag. (Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI), Prof. Dr. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si. (Direktur KSKK Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI), M. Pahmi, S.Pd., M.Si. (BPMP Provinsi Sumatera Selatan), Dr. Moh. Rifqi Rahman, M.Pd.I. (Tim Penyusun Kurikulum Berbasis Cinta), serta Dr. Agustina, M.Pd. (Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Palembang). Kehadiran para ahli ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam dan panduan praktis bagi para peserta, yaitu para guru madrasah.
Pada hari pertama, rangkaian acara workshop dibuka di Rumah Dinas Wali Kota Prabumulih. Pembukaan secara resmi diawali oleh pembawa acara, Elisa Rosiana, dengan pembacaan basmalah yang dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh peserta didik MAN 1 Prabumulih. Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap madrasah ditumbuhkan melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Madrasah yang dinyanyikan bersama oleh seluruh hadirin.
Sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya lokal, acara dimeriahkan dengan penampilan Tari Sambut Seinggok Sepemunyian. Tarian ini secara indah melambangkan akulturasi budaya tiga suku utama di Prabumulih, yakni Suku Rambang, Suku Lematang, dan Suku Belido.
Pada kegiatan ini Dirjen Pendis menyampaikan data dan fakta tentang perundungan yang dialami para pelajar. “Kerap kali terjadi perundungan di lingkungan sekolah. Hal ini rata-rata disebabkan kurangnya bimbingan dari orang dewasa. Banyak pula siswa yang menjadikan orang lain yang bersifat buruk atau bahkan tokoh fiktif sebagai idola karena kurang nya bimbingan. Padahal, bimbingan itu bukan hanya tugas guru BK, melainkan tugas semua guru. Guru tidak hanya mendidik, tetapi juga mengevaluasi. Kurikulum Berbasis Cinta ingin melahirkan good character,” ujar Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag.
Setelah itu, dilakukan penyematan tanda peserta oleh para pejabat yang hadir sebagai simbol dimulainya kegiatan inti workshop. Acara pembukaan diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembacaan hamdalah sebagai tanda syukur atas kelancaran acara.
Selanjutnya, penyampaian materi oleh Dr. H. Ishak, M.Si. dilaksanakan di Aula MANSAPRA. Materi yang disampaikan antara lain tips menyusun tujuan pembelajaran ala KBC, merancang asesmen autentik yang mengukur lebih dari sekadar pengetahuan, evaluasi yang menggali potensi, serta berbagai materi bermanfaat lainnya. Semua ini diharapkan dapat membantu para guru dalam mendidik sekaligus membimbing siswa madrasah agar ilmu pendidikan dan agama mereka semakin kuat serta membantu mereka mengekspresikan pemahaman dengan lebih baik. Diharapkan, workshop ini dapat menghasilkan modul ajar deep learning yang inovatif dan memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah, khususnya di MAN 1 Prabumulih.
[F.A.Z]